INTELIJEN INDONESIA » intel oh intel...... <br> Disclaimer Notice: All statements of fact, opinion, or analysis expressed in this blog are my own. This is not necessarily reflect any official or views of Indonesian Intelligence Agency or any other Indonesian Government entity, past or present. Nothing in the contents should be construed as asserting or implying Indonesian Government endorsement of an article's factual statements and interpretations.

Friday, November 20, 2009

Makna Komunikasi

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih atas kritik dan saran sahabat Blog I-I yang tidak bosan-bosannya mengunjungi, membaca dan menyampaikan informasi penting kepada Blog I-I. Inilah yang kita dapat maknai sebagai komunikasi untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Harus saya akui bahwa kritikan terhadap kualitas tulisan Blog I-I yang "datar" ada benarnya. Tetapi sebagaimana pernah saya jelaskan beberapa tahun silam, Blog I-I tidak mungkin mengambil ruang analisa mendalam yang akan menyaingi laporan Intelijen sesungguhnya. Apabila Blog I-I diisi dengan data-data dan analisa yang valid dan mutakhir tentang Indonesia, tentunya hal ini sama saja dengan pembocoran rahasia negara.

Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa faktor paling utama dan terpenting dalam peningkatan kinerja intelijen Indonesia adalah spirit/semangat untuk membela nasib rakyat dan memperjuangkannya dengan segala kemampuan yang ada. Hal itu dilandasi oleh ketulusan dalam pengabdian, berani mengambil resiko, dan kecerdasan dalam kalkulasi yang menguntungkan bangsa dan negara tercinta Indonesia Raya. Hilangkan segala kepentingan pribadi dan kelompok, hapus cara pandang katak dalam tempurung dan belajarlah dari sejarah dan dinamika perkembangan dunia.


Komunikasi yang telah terbangun dalam wadah Blog I-I belum dapat mendorong perubahan yang nyata dalam peningkatan kualitas intelijen Indonesia, namun setidaknya telah menyalakan semangat perjuangan tanpa kenal menyerah di dalam hati sanubari kita. Bila anda seorang Senopati aktif, bukankah hati kecil anda selalu memanggil untuk mengabdikan segala kemampuan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia? Andaipun anda telah menjadi Senopati non-aktif, panggilan hati itu masih kuat dan kita tidak boleh menyerah dengan segala tantangan dan ancaman yang terus menghantui Indonesia Raya.

Mohon kiranya hal ini dapat dimengerti dan janganlah memancing Blog I-I untuk mengeluarkan analisa yang melebihi laporan intelijen resmi di bumi pertiwi. Kita semua paham bahwa informasi intelijen 90% lebih bersifat terbuka, dan di era yang sangat terbuka saat ini diperlukan ketelitian dan keahlian dalam melakukan klasifikasi secara tepat atas setiap informasi yang beredar. Kalangan intelijen juga paham betul bahwa 10% informasi tertutup tidak mudah untuk diperoleh, namun sering menjadi kunci yang dapat mengkonfirmasi suatu asumsi ataupun membantahnya. Hal itu hanya dapat berjalan mulus apabila kita memiliki dasar ilmu analisa intelijen yang memadai dan kemampuan analisa yang cemerlang ditambah dukungan alat bantu analisa data yang banyak dijual oleh perusahaan penyedia layanan analisa intelijen dan keamanan dalam bentuk software. Apakah kita sudah menggunakannya, dan ada berapa analis Indonesia yang paham betul bagaimana bekerja di era informasi ini?

Satu hal lagi yang membuat Blog I-I hanya menyentuh permukaan dari persoalan-persoalan bangsa adalah untuk menghindari terciptanya suasana yang semakin keruh. Misalnya dalam kasus kontroversi KPK-Polisi-Kejaksaan Agung, pertanyaan Blog I-I adalah seberapa sanggup bangsa Indonesia menanggung kekacauan politik ekonomi apabila persoalan itu dipolitisir sebagai kasus yang maha dahsyat dengan segala asumsi dan teori. Mengapa saya katakan kacau secara politik dan ekonomi, pertama hal ini akan meruntuhkan kepercayaan publik, kepercayaan pemain ekonomi dan investor serta akan mendorong Indonesia terpuruk dalam lubang krisis yang dalam. Diperlukan bukan hanya penegakkan hukum melainkan juga keberanian dan kebijakan serta penyelesaian yang tidak berlarut-larut. Karena semakin lama akan semakin mendorong orang berteori masing-masing, akibatnya adalah kepercayaan yang semakin menipis dari masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional.

Menurut laporan sahabat Blog I-I di KPK, teknologi telah sangat menolong KPK dalam perang melawan korupsi di Indonesia. Sejumlah data sangat akurat dan dapat digunakan untuk menjebloskan para pelaku tindak pidana korupsi ke dalam penjara. Permasalahannya adalah bahwa koruptor di negeri tercinta Indonesia Raya sangatlah banyak sehingga aparat hukum tidak dapat dapat menyelesaikan seluruhnya dalam periode waktu tertentu. Akibatnya sejumlah aparat yang memiliki akses menjadi tergoda, dan beberapa pihak yang terbidik ketakutan, serta beberapa pihak lain senang bermain-main. Akibatnya adalah apa yang sekarang terjadi, yaitu ruwet dalam pertarungan panjang untuk menang-menangan dan bukan untuk kebenaran dan keadilan itu sendiri.

Hidup hanya sekali dan kesempatan berbuat baik untuk bangsa dan negara Indonesia tidak akan terulang berkali-kali. Apabila saat ini kita memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan dan perbaikan kondisi bangsa, tidak ada yang perlu ditakuti. Apakah sahabat Blog I-I takut mati? Apakah sahabat Blog I-I takut miskin? Apakah sahabat Blog I-I takut kehilangan jabatan? Apakah sahabat Blog I-I menjadi sedemikian pengecutnya sehingga membiarkan bangsa Indonesia terbenam dalam lumpur korupsi yang terbukti telah memiskinkan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya dan tidak lagi pantas disebut bangsa yang besar, mengapa demikian? Karena sesama komponen bangsa kita saling menyakiti, saling menghancurkan dan tidak bersatu padu membangun kesejahteraan nasional yang merata. Di saat terjadi praktek tindak pidana korupsi, tahukah bahwa di pelosok Indonesia yang lain saudara kita kelaparan. Memang hal ini klise atau bahkan sudah membosankan di telinga kelompok Middle Class ke atas yang menikmati kemerdekaan. Bangsa Indonesia belum merdeka apabila masih ada yang tertindas, masih ada yang sangat miskin dan kelaparan, masih ada yang dipukuli oleh aparat keamanan, masih ada yang tidak dapat menyuarakan suara hatinya. Maka apalagi yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa Indonesia ?

Blog I-I hanya satu dari ribuan atau bahkan jutaan suara anak bangsa Indonesia dalam bentuk Blog yang mencoba membangun kesadaran massal bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kepada sahabat Blog I-I yang masih malu-malu dalam berkomunikasi, silahkan sampaikan apapun yang sahabat rasakan dapat mendorong kemajuan Indonesia Raya. Blog I-I adalah milik bangsa Indonesia, sehingga sahabat Blog I-I dapat menyuarakan suara hati yang nyaris tak terdengar itu.

Sekian, semoga bermanfaat.


Labels:


Read more!

Tuesday, November 03, 2009

Mencegah Fenomena Kehancuran Indonesia Raya

Mengapa saya katakan fenomena? karena tidak lain sudah terlihat dalam pandangan mata bathin Blog I-I tentang hancurnya Indonesia Raya yang didahului oleh 7 perkara.

1. Rusaknya moral manusia Indonesia akibat godaan korupsi, dalam usia matang Indonesia Raya yaitu memasuki tahun ke-67, seyogyanya masalah ini sudah harus berakhir dengan penegakan hukum yang tegas. Apabila gagal, maka ini adalah tanda-tanda kepastian hancurnya Indonesia.

2. Hilangnya jiwa ksatria dari prajurit-prajurit bangsa Indonesia, khususnya TNI, Polri dan Intelijen. Para pengawal rakyat, bangsa dan negara yang tidak dilandasi jiwa ksatria akan cenderung pengecut, bersembunyi dibalik kebohongan, dan semena-mena serta tidak bertanggung jawab. Akibatnya adalah pagar makan tanaman, dimana perlindungan kepada rakyat Indonesia tidak terjadi, bahkan sebaliknya rakyat justru menjadi korban. Hal ini menuntut reformasi yang serius dalam rangka melahirkan ksatria-ksatria bangsa Indonesia yang dapat diandalkan. Apabila gagal juga, maka ini adalah tanda kepastian kehancuran Indonesia.

3. Kearifan lokal Indonesia yang luntur di jiwa para teknokrat dan ekonom. Kehebatan intelektual lulusan luar negeri baik itu Barat maupun Timur, seringkali mendominasi wacana pembangunan Indonesia. Sementara kearifan lokal dianggap sebagai onggokan sampah karena tidak dapat diterima teori-teori logika yang hebat. Pada zaman keemasan Kerajaan Nusantara, kearifan lokal tampak dalam monumen-monumen yang indah yang mencerminkan konsep masyarakat tentang apa yang ingin dipersepsikan kepada dunia. Saat ini kita melihat budaya bangsa Indonesia sebagai sesuatu yang kumuh dan jumud karena seniman dan seniwati kehilangan daya kreatifitasnya karena masyarakat juga mulai kurang menghargainya. Harga yang harus kita bayar adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan jati diri ke-Indonesia-an. Itulah sebabnya pertikaian faham neoliberal versus sosialisme (kerakyatan) akan terus bergema apabila para teknokrat dan ekonom Indonesia yang cerdas tidak mampu mentransformasi filsafat ekonomi modern ke dalam kearifan lokal Indonesia. Apabila hal ini tetap diabaikan, maka tidak ada yang khas yang menjiwai pembangunan bangsa, negara Indonesia...yang akan terjadi adalah pembangunan kapital, fisik, dan mentalitas kebendaan yang menjadi citra kesuksesan manusia di abad 21.

4. Kejujuran, keadilan dan penegakkan kebenaran. Sejarah Indonesia ditulis dalam kemasan yang baik namun diwarnai ketidakjujuran, ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah reformasi, ternyata situasi tersebut belum benar-benar hilang, bahkan muncul kembali dalam model dan bentuk yang berbeda. Pertarungan nilai-nilai yang selama ini membuat bangsa Indonesia menjadi kuat tampaknya akan semakin berat karena kuatnya pengaruh syataniah yang menjerumuskan Indonesia ke dalam pengabaian nilai-nilai kejujuran, keadilan dan kebenaran. Apabila hal ini juga tidak segera kita kobarkan kembali di setiap jiwa manusia Indonesia, tentunya kehancuran Indonesia juga sudah di depan mata.

5. Kemampuan membaca zaman. Bacalah dengan sungguh-sungguh tanda zaman dan perubahannya. Indonesia tidak dapat hidup dalam keajegan cara pandang di berbagai bidang. Perlu dinamika yang tertata dalam koridor cita-cita bangsa menjadi Indonesia yang sesungguhnya, yaitu bangsa yang baik. Mengapa mengutamakan kebaikan, karena nilai kebaikan yang kuat di bumi nusantara akan mempererat hubungan antar anggota masyarakat yang pada gilirannya akan memperkuat kerjasama internal untuk mendorong peningkatan ekonomi dan sosial secara nyata. Menjadi baik tidak berarti mudah dibodohi oleh orang-orang jahat yang tidak ingin Indonesia menjadi besar. Kesadaran massal bangsa Indonesia memerlukan dukungan dari manusia-manusia Indonesia unggulan. Siapakah manusia unggulan di Indonesia? mereka tersembunyi namun kita dapat merasakan kehadirannya. Ada yang dikenal publik dan ada juga yang tidak, ciri-cirinya adalah bahwa mereka tidak menyadari bahwa pengaruh mereka sangat besar untuk Indonesia Raya. Kelemahan kita dalam membaca zaman menjanjikan kehancuran Indonesia, atau minimal kegagalan pembangunan ekonomi.

6. Perkara yang keenam adalah peranan kepemimpinan nusantara secara nyata dan secara spiritual. Presiden, para Menteri, para pimpinan Partai, para anggota Dewan, para gubernur, bupati, camat, lurah, kepala desa, dll adalah penguasa kepemimpinan dunia nyata. Namun mereka belum tentu juga berperan sebagai pemimpin dunia spiritual. Semua golongan agama dan kepercayaan di Indonesia niscaya memahami pentingnya memelihara bumi yang akan melahirkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia sebab-akibat, dunia tanpa batas, dan dunia elementer yang sering digunakan sebagai rujukan melihat masa depan. Karena di Indonesia terlalu kuat pengaruh alam khayali (imajinasi), maka seringkali kepercayaan kita kepada para pemimpin spiritual menjadi sangat rendah, bahkan cenderung tidak percaya. Lagi pula sangat sulit untuk mengetahui atau menemui pemimpin/penempuh jalan spiritual yang murni, asli, dan iklhas. Kegagalan memadukan hal ini akan mendorong Indonesia ke satu sisi yang membahayakan, namun akan dapat kembali pada keseimbangan, sayangnya proses tsb akan menyerap tenaga, dana, dan pikiran, dan apabila hal itu tidak tersedia, maka kehancuran juga telah menanti.

7. Perkara terakhir adalah perkara kampanye massal kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk tidak bosan-bosannya menyerukan semangat kebangkitan bangsa Indonesia. Peranan media massa, baik dalam bentuk cetakan, online, media radio, TV, dll sangatlah penting. Namun sayangnya belum tampak suatu kesadaran yang luas di kalangan media massa untuk turut serta memajukan bangsa dan negara Indonesia melalui program-program yang akan mampu mendorong bangsa Indonesia memiliki jati diri ke-Indonesia-an yang kuat.


Sekian.

Penyelidikan terhadap Blog I-I bukan hanya secara nyata, namun juga melibatkan yang tidak nyata. Niscaya rekan-rekan yang menyelidiki akan melihat kekosongan tanpa warna, tanpa emosi dan kehendak. Hampir-hampir putus asa, hanya karena Yang Maha Pencipta membangunkan kembali dari himpitan bayangan fenomena kehancuran Indonesia Raya, maka Blog I-I masih dapat berada di tengah-tengah kita.

Bagaimana dengan rekan-rekan...?







Read more!

Berpikir Kritis Intelijen

Kita sering mendengar istilah berpikir kritis, apakah maksudnya? apakah hal itu berarti kita menjadi seorang ahli kritik yang berhasil melihat kekurangan dan kemudian mengkritisi dan memperbaikinya? Ternyata tidak sesederhana itu.

Orang yang senang melakukan kritik, belum tentu memiliki tawaran jalan keluar yang tepat. Sebaliknya orang tidak bisa mengkritik sangat mungkin tidak mampu melihat kelemahan dari suatu persoalan.

Cara paling tepat dalam memahami berpikir kritis adalah sbb:

Suatu kebiasaan cara pandang kita terhadap suatu persoalan berdasarkan tujuan dan manfaat, serta didasari oleh penilaian-penilaian yang obyektif dan akurat berdasarkan observasi, pengalaman analisa, teori, serta informasi-informasi yang tersedia yang kemudian menghasilkan pemahaman-pemahaman yang beragam yang kemudian kita saring dan menghasilkan produk yang terstruktur dengan baik yang mencakup deskripsi dan argumentasi yang logis.

Jadi singkat kata agak lebih luas dari sekedar kritik mengkritik bukan?

Andaikata analis intelijen membiasakan diri untuk berpikir kritis, tentunya hasilnya akan luar biasa.

Sekedar Kopi hangat di sore menjelang malam yang dingin.

Salam

Read more!

Dari Intimidasi Baru terhadap Blog I- I ke Kasus KPK-Polri

sebagaimana rekan-rekan Blog I-I ikuti, belakangan Blog I-I kembali menerima email dan komentar yang bernada intimidasi. Entahlah serius atau tidak. Sepertinya ada semacam kekhawatiran dari pengaruh Blog I-I yang dianggap berpihak pada salah satu kekuatan politik di negeri ini.

Perlu ditegaskan kembali bahwa intelijen hakikatnya tidak mengabdi kepada kekuatan politik, namun tidak dapat berkiprah tanpa dukungan politik dan kekuasaan. Intelijen mengabdi hanya kepada kepentingan nasional, kepentingan bangsa dan negara, serta bukan kepada individu, kelompok atau kekuatan tertentu. Jadi janganlah khawatir, Blog I-I akan tetap profesional berada di ruang idealisme perjuangan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Apabila kemudian Blog I-I memperlihatkan keberpihakan hal itu semata-mata berdasarkan pertimbangan obyektif yang tidak emosional, serta landasannya adalah untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Sekedar contoh, Bagaimana bila dihadapkan dengan polemik perseteruan KPK dan Polri? dimanakah posisi Blog I-I....tentu saja bukan kepada salah satu institusi, melainkan kepada kebenaran hakiki yang patut diperjuangkan di pengadilan seberat dan sesulit apapun itu. Langkah-langkah tekanan politik dan demonstrasi massa mungkin akan bermanfaat dalam mendorong penyelesaian yang adil. Pembentukan opini publik mungkin juga wajar untuk ditempuh di era demokrasi ini. Namun esensi yang harus kita pegang erat-erat adalah bahwa penyelesaian pertikaian tersebut harus melalui proses yang adil di pengadilan dan tidak melalui tekanan-tekanan kekuasaan yang akhirnya akan mengaburkan makna kebenaran dan keadilan.

Kita dapat saja bersimpati kepada pimpinan KPK dan menganggap telah terjadi upaya penggembosan KPK, namun apabila fakta bicara bahwa pimpinan KPK terlibat kasus korupsi sekecil apapun...maka kita tidak boleh menutup mata bukan.

Kita juga dapat bersimpati kepada Polri yang menemukan sejumlah fakta yang melibatkan pimpinan KPK meskipun motivasinya belum tentu untuk penegakkan anti korupsi, dan kita juga tidak bisa menutup mata dari motivasi tersembunyi dan fakta-fakta yang ditemukan bukan.

Kejujuran menjadi barang langka yang sangat mahal...akibatnya bangsa Indonesia terkutuk dalam kemiskinan dan kebodohan serta ketakutan dalam penegakkan kebenaran.

Sesungguhnya tidak ada yang perlu ditakuti karena kita hidup hanya sekali, apakah apabila kita mengungkap kasus korupsi seorang tokoh di Indonesia maka kita akan terancam mati? Pembunuhan adalah dosa yang besar, dan apabila kita dibunuh karena mengungkapkan kasus korupsi maka kita mati syahid bukan? mengapa bangsa Indonesia menjadi sangat pengecut dalam mengungkapkan kebenaran.

Presidenkah anda? Jenderalkah anda? Polisikah anda? Jaksakah anda? Hakimkah anda? Pengacarakah anda? Anggota Dewankah anda? ataukah anda hanya seorang miskin yang hidup ditepi kematian karena kelaparan? Tentunya sangat berbeda dalam hal akses penegakan kebenaran dan keadilan, bukan? Sudah terlalu lama Indonesia berada di dalam cengkeraman kejahatan luar biasa korupsi yang membuat bangsa Indonesia miskin, bodoh dan terbelakang.

Berani hidup menegakkan kebenaran dan keadilan rasanya sudah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota bangsa Indonesia untuk menghayati dan menjalaninya.

Blog I-I hanya bisa omong saja....ya benar karena aksesnya hanya pada ruang maya pembelajaran dan motivasi keberanian bagi bangsa Indonesia. Andaikata saya menjadi seorang Jenderal Polisi atau Jaksa atau Hakim, mungkin saya juga termasuk yang cepat mati dibunuh atau disingkirkan sehingga tidak lagi memiliki akses kepada penegakkan kebenaran dan keadilan di negeri tercinta ini.

Karena keterbatasan akses Blog I-I, maka hanya dorongan semangat dan motivasi kebangsaan demi masa depan rakyat dan negara Indonesialah, maka saya menuliskan artikel ini.

Sesungguhnya rakyat Indonesia akan mendo'akan setulus-tulusnya kepada siapapun pemimpin bangsa ini yang sanggup menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kasus-kasus korupsi yang jelas-jelas telah merusah sedemikian parahnya sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Bila anda seorang penegak hukum janganlah takut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan jika anda seorang politisi janganlah takut menyuarakan kebenaran dan keadilan, karena hidup cuma sekali dan jadilah seorang satria bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh menjalankan kewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan. Serta janganlah bersembunyi dibalik pertarungan polemik dan siasat hukum untuk kemenangan para koruptor.

Atau....bila anda semua ternyata termasuk koruptor-koruptor yang telah menyayat hati bangsa Indonesia yang miskin, maka bertaubatlah dan bangkitlah kembali bersama rakyat Indonesia untuk mengakhiri sejarah kerusakan moral dengan praktek-praktek korupsi.

Semoga polemik dalam dinamika anti korupsi dapat berakhir dan berujung pada penyelesaian yang adil dan berdasarkan kebenaran.

Hentikanlah sifat pengecut...beranilah mengaku salah dan beranilah bertaubat...dan beranilah untuk melawan kekuatan gelap para koruptor.

Sekian
Semoga bermanfaat.



Labels: , , ,


Read more!

Friday, October 23, 2009

Tentang Isu Menteri Kesehatan yang Baru

Tuduhan dan bantahan telah berhamburan di media massa tentang isu yang mewarnai naiknya Menteri Kesehatan yang baru, Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kerusakan dalam lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia sering terjadi karena personifikasi jabatan, persaingan, dan kompetisi yang kurang sehat. Khusus di Departemen Kesehatan, sejumlah persoalan korupsi, masih rendahnya level kesehatan masyarakat yang dapat ditunjukkan oleh angka kematian ibu dan anak, harapan hidup yang relatif rendah, penanganan penyakit menular yang lambat, lemahnya sistem pelayanan kesehatan, serta diskriminasi pelayanan kesehatan, seringkali kurang diperhatikan karena kita lebih tertarik membahas sosok pimpinan Depkes dari pada bersikap kritis pada kenyataan bahwa rakyat Indonesia menderita karena kurang profesionalnya Departemen Kesehatan.

Mengapa antara elit yang satu dengan yang lainnya sering terjadi saling menyerang, padahal mereka semua adalah asset bangsa yang sangat berharga karena sama-sama memiliki kemampuan untuk memajukan Bangsa Indonesia. Jawabannya lagi-lagi politik, bumbunya adalah ideologi dan kepentingan tertentu.

Entah kapan rakyat Indonesia menjadi cerdas, cermat, dan elegan dalam menyongsong masa depannya. Apabila masih saja ribut di level tuduh-menuduh tanpa bukti kuat yang dapat diajukan ke pengadilan, tentunya kita akan mandeg dalam perubahan semu bagaikan jalan di tempat. Mengapa demikian? karena kita akan menghabiskan banyak waktu, tenaga, emosi, dan biaya untuk perseteruan yang kurang perlu.

Saran saya, mulailah dengan sikap kritis yang serius dengan penyelidikan dan pengawasan yang seksama atas setiap elit politik yang diduga kuat menghianati kepercayaan bangsa dan rakyat Indonesia. Siapapun anda, apapun level pekerjaan anda, dan sedikit apapun informasi yang anda miliki yang dapat membahayakan kepentingan nasional dalam definisi kepentingan bangsa, rakyat, dan negara Indonesia, maka laporkanlah kepada yang berwenang, apabila anda takut maka ungkapkanlah kepada jaringan Blog I-I yang akan setia mengawal perjalanan bangsa Indonesia menyongsong kejayaan Indonesia Raya.

Mungkin akan membuka mata kita dengan pembahasan serius dalam Blog I-I, tetapi ingatlah...sudah waktunya bangsa Indonesia memulai suatu era yang lebih serius dalam setiap isu dengan data-data faktual dan bukti-bukti yang dapat diajukan ke depan hukum. Serta hentikanlah menghembuskan isu-isu yang dapat menimbulkan polemik dan menghambat kemajuan Indonesia Raya.

Kembali ke isu di seputar Ibu Endang.

Blog I-I setuju bahwa kerjasama dengan pihak asing penting untuk kemajuan dunia kesehatan serta dapat bermanfaat sebesar-besarnya untuk kemanusiaan. Namun janganlah menjadi orang pintar yang dapat dibodohi/dibohongi hanya karena terkesima oleh janji dan kemajuan teknologi pihak asing. Mulailah berpikir dan bekerja secara lebih pintar dan strategis serta dapat membela kepentingan bangsa Indonesia, dan bukan menjadi budak asing.

Blog I-I juga setuju bahwa Indonesia harus kritis dalam melihat setiap kerjasama dengan asing. Namun janganlah anti asing dan tidak kooperatif yang kemudian cenderung menghalangi upaya-upaya kemajuan kesehatan untuk kemanusiaan. Mulailah memperhatikan untung rugi secara lebih teliti karena dengan memusuhi asing tentunya juga akan merugikan Indonesia apabila alasannya tanpa bukti kongkret.

Kedua pandangan diatas apabila dilaksanakan dalam titik ekstrim masing-masing, tentunya yang rugi adalah Indonesia Raya.

Blog I-I kagum dengan keberanian Ibu Fadilah Supari karena ada benarnya bahwa dunia bisnis farmasi di dunia sangatlah kejam dengan mengambil keuntungan yang terlalu besar dari penemuan vaksin yang bersumber dari penelitian terhadap sample-sample darah penderita penyakit. Kasus-kasus besar yang melibatkan bisnis farmasi dunia telah menimpa benua Afrika dan meninggalkan noda berdarah yang tertutupi kabut ketidakpedulian. Tentunya kita tidak ingin hal itu menimpa Indonesia bukan...singkatnya mulailah untuk pintar bernegosiasi untuk kepentingan umat manusia untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Blog I-I tidak akan mengecilkan potensi Ibu Endang yang meski dibayangi oleh sejumlah isu tidak sedap, karena belum tentu sejarah kerjasama yang dilakukannya bersama asing dapat dikategorikan sebagai penghianatan terhadap kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Apabila memang harus bekerjasama dengan asing karena keterbatasan kemampuan dunia medis Indonesia, buatlah suatu kerjasama yang tidak merugikan bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak ada yang gratis, dan bernegosiasilah sebagai wakil bangsa dengan niat membela sebesar-besarnya kepentingan bangsa Indonesia di bidang kesehatan. Misalnya apabila proyek penelitian asing di Indonesia terus dikembangkan, harus ada jaminan bahwa hal itu juga untuk sebesar-besar kepentingan rakyat Indonesia yang menderita penyakit yang sedang diteliti. Jangan sampai dirugikan berkali-kali karena kebodohan, pastikan bahwa Indonesia akan untung besar apabila harus membuat kerjasama dengan asing.

Kemudian...dimana kebenaran dalam polemik ini? Selama kita terlalu menyenangi gossip, berbicara/berkomentar, menduga-duga, berpolitik, tanpa upaya penyelidikan yang mendalam dan serius, selama itu pula kita berputar-putar dalam kecurigaan sesama kita sendiri. Kita akan terpecah-pecah secara merusak, padahal di dalam hati kecil semua sangat mencintai Indonesia Raya.

Kita seharusnya bukan lagi generasi jajahan Belanda yang mudah diadu domba karena banyak penghianat yang membela kepentingan penjajah. Kita seharusnya memulai suatu era yang lebih sehat dengan sistem pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, memperkuat sistem hukum kita dan menegakkannya. Sehingga kita dapat mencegah siapapun yang terbukti sebagai penghianat bangsa naik sebagai tokoh penting di bumi pertiwi, sebaliknya kita juga dapat mencegah fitnah terhadap calon petinggi negara yang dapat memajukan Indonesia Raya.

Semoga bermanfaat.
Senopati Wirang

Labels:


Read more!

Thursday, October 22, 2009

Selamat Kepada Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto

Sebelum saya membahas pengangkatan Jenderal Sutanto sebagai Kepala BIN, izinkanlah saya mengucapkan selamat kepada Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sutanto, semoga dunia intelijen sipil Indonesia menjadi semakin profesional, serta mampu mengawal perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia Raya, serta melindungi keselamatan rakyat Indonesia di tengah-tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Bagi komunitas intelijen Indonesia, diangkatnya Jenderal Sutanto sebagai kepala BIN bukanlah kejutan. Analisa yang paling sederhana dalam memperkirakan calon Kepala BIN mengacu pada dinamika perang bintang (sekitar 60-an Jenderal) yang saling berhadapan selama masa kampanye pemilu, semua insan intelijen yang memiliki waskita telah mengetahui siapa-siapa calon pimpinan tertinggi lembaga intelijen tertinggi di Indonesia -- Badan Intelijen Negara (BIN). Baik kubu SBY-Boediono, JK-Wiranto, maupun Mega-Prabowo semuanya memiliki dukungan ahli-ahli strategis yang pantas menduduki posisi Kepala BIN. Karena pemenang pemilu adalah SBY-Boediono, maka terpilihnya Jenderal Sutanto sebagai Kepala BIN yang merupakan salah satu dari sekitar 18 Jenderal purnawirawan pendukung kubu SBY-Boediono.

Sangat sederhana bukan? Politik ya...akhirnya adalah politik. Betapapun juga kuatnya unsur politik dalam penentuan Kepala BIN, kita patut bersyukur karena secara mantap Indonesia telah melangkah pada suatu sistem seleksi untuk kepemimpinan nasional, mulai dari sistem pemilu yang demokratis, hingga proses-proses menuju kursi pimpinan Departemen dan Lembaga non-Departemen, termasuk BIN.

Dengan kata lain, komunitas intelijen dapat meyakini bahwa pemimpin intelijen yang baru memiliki kemampuan intelijen (baik dalam definisi intelektual, organisasi, kegiatan/operasi, maupun visi dan misi dalam pengembangannya).

Sejumlah kalangan/kelompok ada yang merasa sosok Jenderal Sutanto kurang tepat, dengan alasan intelijen keamanan Polri kurang berhasil selama Jenderal Sutanto menjabat sebagai Kapolri. Sebagian komunitas intelijen khawatir bahwa kepemimpinan mantan Kapolri di BIN akan membawa perubahan pola operasional yang cenderung polisionil serta akan membawa pasukan coklat terlalu banyak ke dalam BIN sebagaimana juga dilakukan oleh pimpinan Jenderal dari kalangan Hijau. Akibatnya, BIN yang seharusnya dan sewajibnya sangat kuat dalam tataran analisis strategis demi keselamatan bangsa, kemudian terjebak dalam operasi-operasi taktis jangka pendek yang hanya memikirkan kepentingan sesaat.

Apabila Jenderal Sutanto tidak banyak berbeda dengan Jenderal dari TNI, tentunya kekecewaan terbesar tentunya akan dialami oleh intelijen tanpa warna tanpa suara yang hanya memiliki korps bayang-bayang mengabdi sungguh-sungguh tanpa kilauan pangkat dan jabatan.

Langkah paling penting yang harus segera ditempuh oleh pimpinan BIN adalah reformasi organisasi khususnya dalam soal peningkatan sumber daya manusia, yaitu peningkatan skill operasional dan analisis yang memadai. Kehebatan sebuah lembaga intelijen lebih banyak disebabkan oleh intelektual yang diartikan sebagai kecerdasan, kecerdikan dan kecermatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan maupun reporting hasilnya. Hal ini boleh dikatakan kurang berkembang hampir di seluruh lembaga intelijen di Indonesia. Perhatikan misalnya bagaimana komposisi tenaga ahli di tiap-tiap lembaga intelijen di Indonesia. Mulai dari soal latar belakang pendidikan, hingga pengalaman, sedih rasanya melihat bahwa intelijen Indonesia masih sangat kurang, bahkan terbelakang bila dibandingkan dengan intelijen-intelijen di ASEAN.

Dalam penyelidikan Blog I-I ke Thailand, Malaysia, dan Singapura...sungguh mencengangkan. Karena lembaga-lembaga intelijen di sana memiliki program peningkatan sumber daya manusia yang sangat baik. Hampir setiap tahun mereka secara reguler meningkatkan kualitas insan intelijen dalam program pendidikan tingkat Master dan beberapa di tingkat Doktoral (khususnya bidang studi ekonomi, strategi, politik dan perang). Artinya mereka memiliki kemapuan intelijen/intelektual yang lebih update karena ilmu terus berkembang sepanjang zaman.

Blog I-I juga paham betul apabila ada pesan khusus yang diberikan SBY kepada Kepala BIN yang baru. Dalam kaitan ini, semoga terdapat kebijaksanaan yang tepat dalam penyelesaian masalah lama yang tersangkut di BIN karena kekeliruan langkah di sini dapat berdampak fatal.

saran Blog I-I, apabila memiliki pesan khusus SBY dan benar-benar akan dilaksanakan di BIN, maka lakukan secara cepat dan efektif hingga ke akar-akarnya. Atau tidak sama sekali, karena perlawanan dari musuh-musuh SBY cukup berbahaya bagi keselamatan rakyat, Bangsa dan Negara Indonesia. Komunitas Intelijen tidak menghendaki terjadinya hambatan dalam pembangunan menuju Indonesia Raya.

Oleh karena itu, persengketaan yang terjadi di tingkat elit seyogyanya apabila itu akan segera diselesaikan melalui jalur hukum, harus dilakukan secara cepat dan efektif tanpa dapat dibantah oleh musuh-musuh SBY.

Mohon maaf, saya tidak dapat mengungkapkan pesan SBY kepada Kepala BIN yang baru, tetapi komunitas intelijen dan jaringan Blog I-I sangat paham dan dapat memaklumi kebijakan yang akan ditempuh. Oleh karena itulah saya menyampaikan pesan ini.

Selamat Bekerja Jenderal, semoga sukses dan senantiasa dalam perlindungan Allah SWT.

Senopati Wirang

Labels: ,


Read more!

Wednesday, September 23, 2009

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan segala kerendahan hati Blog I-I menyampaikan permohonan maaf karena masih dianggap sebagai Intel Kampret yang belum cukup berkontribusi untuk kejayaan Indonesia Raya, belum maksimal dalam mendorong cita-cita nasional Indonesia Raya yang kuat dengan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur, belum maksimal dalam menyadarkan para elit politik dan elit kekuasaan akan bahaya korupsi, belum menyentuh reformasi dan perbaikan sistem intelijen nasional Indonesia, serta dosa intelijen adalah dosa terbesar setelah dosa politik kekuasaan, sehingga saya sebagai bagian dari sejarah perjalanan Intelijen Indonesia memohon maaf yang sebesar-besarnya atas berbagai kegagalan dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia, serta Blog I-I mohon restu dan izin rakyat Indonesia untuk mengobarkan semangat Indonesia Raya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430H

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

SW




Labels:


Read more!

Friday, September 18, 2009

Mengapa Kelompok Teroris Beroperasi di Indonesia?

Pertanyaan dalam judul artikel ini akan terasa susah bagi rekan-rekan yang baru mempelajari sejarah terorisme di Indonesia mulai era 1980-an. Akan semakin susah bagi yang hanya mempelajari sejak era 1990-an, serta akan semakin lebih susah lagi bila kita hanya melihatnya dari fenomena serangan bom sejak tahun 2000 yang tercatat terjadi sekitar 20-an lebih kasus teror bom. Namun tentunya kita bertanya-tanya mengapa? Hanya Indonesiakah yang mengalaminya? jawabnya tidak, karena Filipina dan Thailand juga berkali-kali mengalami serangan bom. Bagaimana dengan Malaysia, Singapura, dan negara ASEAN lainnya? Karakteristik yang berbeda dari setiap negara menyebabkan tumbuh kembangnya kelompok teror juga berbeda. Tetapi secara umum negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura telah masuk dalam radar organisasi teroris yang mengatasnamakan Islam dengan pembentukan mantiqi-mantiqi.

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam terkait kelompok fanatik Islam. Mohon fanatik disini jangan diterjemahkan sebagai sesuatu yang positif ataupun negatif, tetapi pahami sebagai suatu keadaan psikologis totalitas seseorang dalam filsafat dan prinsip hidupnya yang dampaknya menegasikan yang lain. Hal ini merupakan keadaan fanatik agama atau al-ta'ashubud diiniyyu yang akhirnya pada titik yang ekstrim menyebabkan munculnya sikap dan perilaku yang memandang di luar dirinya dan kelompoknya adalah kafir (yakfuru).

Dalam beragama Islam tidak ada yang salah dengan sikap menegasikan yang lain, karena Islam mengajarkan prinsip awal tidak ada Tuhan selain Allah, suatu prinsip dasar tauhid yang dipahami secara universal wajib bagi seluruh aliran dalam Islam. Namun ternyata beragama itu bukan hanya ibadah kepada Tuhan, melainkan juga beramal kepada lingkungan dan sesama mahluk hidup, sehingga menyentuh pula dunia sosial, ekonomi dan politik. Titik yang paling krusial adalah dalam hubungannya dengan politik dan kekuasaan. Dengan bersumber pada perjuangan Nabi, para sahabat dan kalifah keIslaman di masa lalu, tentunya sangat wajar apabila kemudian muncul faham perjuangan politik dan kekuatan militer untuk mewujudkan kembali pemerintahan Islam di dunia ini. Argumentasinya adalah tanpa kekuasaan, Islam belum ditagakkan di bumi ini, sehingga berkembanglah doktrin menegakkan agama Islam mencakup kewajiban jihad membentuk kekuatan Islam yang nyata yang dapat mengatur kehidupan masyarakat (kekuatan politik).

Pertarungan tersebut kemudian membuka kembali lembaran-lembaran sejarah pertarungan negara teokrasi dan negara sekuler (demokrasi). Sejarah dunia mencatat berbagai kekalahan sejumlah agama dunia seperti Kristen, Islam, Hindu, Buddha dalam perebutan kendali atas negara yang merupakan pengatur masyarakat. Paska kekuasaan (regional-global) Turki Usmaniyah, maka dunia Islam kembali ke wilayah-wilayah negara yang lebih kecil. Terjadi sejumlah model di negara-negara Timur Tengah seperti kolaborasi dinasti keluarga dengan ajaran Wahabbi (Saudi Arabia), berkembangnya sekularisme dan terciptanya sel-sel perlawanan untuk perjuangan negara Islam di berbagai negara.

Di Indonesia Islam mulai diperkenalkan sejak abad ke-11 dimana catatan tertua bahkan berasal pada era kerajaan Singsari di Jawa tahun 1082 Masehi (diduga merupakan catatan atas makam umat Islam asal Arab). Pada tahun 1292 Masehi, telah ada catatan sejarah dari berita Marcopolo tentang umat Islam yang besar di Aceh, sedangkan Kerajaan Pasai adalah kerajaan Islam Nusantara yang pertama. Pada abad 14-15 M, adalah bangkitnya kekuatasn Islam Nusantara dan awal runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha, Islam di Nusantara semakin kuat karena kedatangan Islam ke Nusantara adalah fenomena yang unik karena sungguh-sungguh damai melalui jalur pendidikan, sentuhan budaya dan terjadi akomodasi budaya yang melahirkan sinkritisme Islam khas Indonesia. Islam Damai adalah ciri khas Islam di Indonesia yang tidak menggunakan pedang dalam penyebarluasannya. Karakter Islam Damai di Indonesia tersebut berubah ketika Bangsa Barat akhir abad ke 15 M masuk ke Nusantara. Melihat kenyataan berkembangnya Islam di Nusantara, terjadilah benturan pertama Islam-Kristen di Nusantara karena pengaruh perang Salib yang terjadi di belahan dunia lain (Timur Tengah dan Eropa).

Sejarah perjuangan Kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melawan penjajah yang mengatasnamakan ajaran Kristen dengan Gospelnya adalah akar sejarah pertama yang ada di alam bawah sadar mayoritas umat Islam Indonesia yang selalu curiga kepada kekuatan Barat. Bagaimanapun juga, kita adalah anak-cucu umat-umat terdahulu bukan?

Kerajaan Islam Nusantara hancur dan Nusantara dijajah selama 350 tahun, namun sepanjang sejarah tersebut perlawanan terjadi dimana-mana dan seluruh elemen bangsa Indonesia berjuang dengan segala kemampuan yang ada. Paska kehancuran kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, perjuangan kemerdekaan tidak terjadi dalam skala nasional, melainkan lokal, dimana kekuatan masyarakat yang lokal tersebut lintas agama, lintas etnis melawan penjajah Belanda.

Hancurnya kekuatan politik Islam tidak menghancurkan sendi-sendi umat Islam yang telah mengakar selama beberapa ratus tahun sebelum kedatangan Belanda.

Singkat kata, hingga lahirnya gerakan nasionalisme Indonesia pada awal abad 20, perjuangan kemerdekaan Indonesia mencapai tahap finalisasi menuju kemerdekaan. Kelompok-kelompok yang ada dalam pejuangan nasional tersebut mencakup berbagai elemen bangsa lintas agama, etnis suku bangsa, dan pandangan ideologi politik. Islam politik cukup dominan, dan warnanya juga beragam. Piagam Jakarta adalah bukti sejarah politik Indonesia dimana dominasi kelompok Islam begitu kuat pada masa persiapan kemerdekaan. Namun karena keyakinan bahwa pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia adalah prinsip dasar nasionalisme Indonesia, maka piagam jakarta tidak diberlakukan serta dihapus nuansa keIslamannya serta menjelma menjadi Pancasila.

Paska peristiwa kemenangan prinsip nasionalisme Indonesia, sebagian kelompok Islam sangat kecewa. Bahkan elemen pejuang militer Islam (Tentara Islam) kemudian menyusun konsep Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII)di Jawa Barat tahun 1949 dengan pimpinan S. M. Kartosuwirjo, dan di Aceh tahun 1953 dengan pimpinan Daud Beureuh. Disamping elemen perlawanan Tentara Islam atas pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berkembang pula elemen-elemen pesantren "jihad" (jumlahnya sekitar 70an) dan elemen pendukung syariat Islam dari partai Masyumi yang dihancurkan pemerintahan Sukarno. Pada era Orde Baru sejak tahun 1965, pemerintah Indonesia dengan pendekatan kekerasan militerisme melakukan kebijakan menghancurkan bahaya laten radikal kiri (komunisme) dan radikal kanan (Islam). Hal ini telah mempertajam sakit hati kelompok masyarakat Indonesia yang berada dalam kategori radikal kanan dan kiri tersebut, sehingga masuklah mereka semua ke dalam sel-sel pembibitan yang semakin keras. Pesantren Ngruki (1972) yang dibangun Abu Bakar Basyir hanyalah satu dari pesantren lain yang juga mengajarkan jihad, namun hal ini tidak dapat digeneralisir kedalam dunia terorisme.

Dalam penelitian Blog I-I ke dalam organisasi teroris, diketahui bahwa perilaku aksi bom bunuh diri tidak diajarkan di pesantren, melainkan terjadi dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintahan yang dianggap kafir. Hal ini dalam sejarah modern mengacu pada pola strategi yang diterapkan oleh kelompok Hezbollah di Lebanon. Hal ini dianggap berhasil menakut-nakuti lawan, namun kemudian direduksi oleh dunia Barat (AS dan sekutunya) sebagai terorisme internasional. Sehingga pencitraan heroisme aksi bom bunuh diri Hezbollah berubah menjadi aksi pengecut teroris.

Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal aksi bom bunuh diri misalnya di Aceh ketika melawan Belanda dengan sebutan Aceh Moord. Serta kita semua tentunya akan sangat menghormati aksi paling heroik dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia pada 1945 yang dilakukan oleh Muhammad Toha di Bandung Selatan dengan meledakkan dirinya di gudang mesiu demi melemahkan kekuatan Belanda, yang kemudian dikenal dengan “Bandung Lautan Api.” Artinya, kita tidak akan pernah menyebut aksi Muhammad Toha sebagai tindakan pengecut bukan? sebaliknya akan memberikan penghormatan dan doa, dan kita mengakui kepahlawanan Muhammad Toha.

Demikian pula yang terjadi dalam gerakan terorisme modern Indonesia, kelompok ini menganggap aksinya sebagai tindakan mulia, yang mana bertentangan dengan pandangan umum kita yang melihatnya sebagai tindakan hina. (Perhatikan kasus bandung lautan api, dan resapi bagaimana perasaan kita sendiri).

Ah ha...saya kembali bicara kesana-kemari tetapi belum menjawab mengapa kelompok teroris beroperasi di Indonesia?

Jawabannya ada di dalam hati kita dan ada di depan mata kita sendiri, yaitu sbb:

1. Sejarah perjuangan bangsa kita yang tidak takut mati masih ada di dalam diri kita, sehingga apabila ada bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki karakter perlawanan tidak takut mati adalah hal yang wajar. Kualitas ini tidak dimiliki negara-negara tetangga yang memperoleh kemerdekaan secara mudah gratisan dari negara penjajahnya yang baik hati.

2. Mayoritas Islam Damai Indonesia sejak abad 11 M memiliki karakter diam dan hanya bereaksi ketika terjadi peristiwa yang mengganggu kedamaian, sehingga dibutuhkan waktu cukup lama untuk membangkitkan kewaspadaan terhadap keberadaan segelintir umat Islam yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuannya.

3. Mayoritas umat Islam Indonesia membawa sejarah bawah sadar kecurigaan yang kuat terhadap intervensi Barat sebagaimana terjadi dalam perang Nusantara di Indonesia dan perang Salib di dunia, sehingga akan sulit percaya apabila ada Muslim yang tega menyakiti sesama, apalagi aksi teror.

4. Bahwa Indonesia adalah lahan yan sangat subur bagi lahirnya radikal kanan (versi pemerintah) karena kebijakan represi yang salah sasaran dari pemerintah Orde Baru. Pada era reformasi ada perbaikan dimana dialog telah terjadi dari berbagai elemen bangsa sehingga dapat dicapai suatu keadaan yang lebih adil di masa mendatang. Di lahan yang subur karena 40 juta rakyat kita masih miskin, sementara korupsi masih merajalela, tentunya apabila ada diantara rekan-rekan Blog I-I yang melakukan aksi bom bunuh diri di pusat-pusat korupsi nasional Indonesia akan menjadi pahlawan bukan?

5. Indonesia baru memulai komunikasi yang lebih sehat pada 10 tahun terakhir, sebelumnya penderitaan dan rasa sakit tidak terkomunikasikan, hal ini merupakan sejarah Hak Asasi Manusia Indonesia yang sangat buruk. Manusia Indonesia banyak mengalami ketidakadilan, termasuk dalam soal perlindungan hukum dan perlakuan yang wajar. Perhatikan perbedaan nasib bomber Bom Bali yang memperoleh proses peradilan dan liputan yang lebih berimbang dibandingkan dengan para pendiri DI/NII yang hilang begitu saja atau mati entah dimana. Perlu dibangun suatu mekanisme komunikasi yang lebih baik dalam wacana karakter kebangsaan Indonesia dengan seluruh elemen, dan hal ini menjadi kewajiban pemerintah. Hal ini juga terjadi dalam kasus separatisme baik di bekas propinsi Timor Timur, Aceh, Maluku maupun Papua.

6. Aksi teror di Indonesia relatif lebih mudah karena aparat keamanan, khususnya pengamanan instalasi baik tempat umum maupun khusus memiliki tingkat disiplin yang rendah. Hal ini perlu direformasi dengan peningkatan kesejahteraan dan penggunaan alat-alat pencegahan dan pengawasan yang lebih modern, seperti di negara tetangga Singapura dan Malaysia.

7. Boleh saya katakan bahwa seluruh elemen teroris Indonesia adalah asli buatan dalam negeri, yaitu kelanjutan dari elemen-elemen sejarah bangsa yang saya sebutkan di atas. Peristiwa internasional merupakan elemen katalis yang memperkuat dan mempercepat pertumbuhan kelompok teroris. Misalnya pengalaman "berjihad" di Afghanistan dan Filipina Selatan, komunikasi dengan Al Qaeda, dengan elemen radikal Wahabbi dan elemen jihad salafy ataupun gerakan militer Ikhwanul Muslimin.

8. Saya beberapa kali pernah mengungkapkan adanya kemungkinan "master puppet" yang mengacu pada negara-negara Barat, misalnya dengan kejanggalan kasus Omar Faruq ataupun keanehan sejarah Afghanistan yang saat ini masih diwarnai konflik bersenjata, juga pada situasi di Irak dan Lebanon. Latar belakangnya bisa saja uji coba senjata canggih negara Barat, upaya labelling Islam teroris, serta konspirasi dalam mengalihkan perhatian dunia dari masalah global yang sesungguhnya. Namun hingga saat ini, sangat sulit bagi kita mengumpulkan fakta-fakta yang dapat dipergunakan untuk membuktikan hal tersebut, namun secara analisis terlihat cukup meyakinkan. Untuk catatan terakhir ini, saya serahkan kepada rekan-rekan Blog I-I, anggaplah ini sebagai latihan intelektual dalam meningkatkan pemahaman kita terhadap isu-isu keamanan nasional Indonesia.

Apakah hal-hal tersebut diatas yang menyebabkan kelompok teroris beroperasi di Indonesia? tentu ada satu lagi catatan yang tidak kalah pentingnya atau bahkan paling penting dari semua itu, khususnya dalam fenomena keIndonesiaan. Yaitu para teroris sebagaimana juga mayoritas orang Indonesia berpikir lokal dan beraksi lokal pula, think locally dan act locally also. mengapa demikian? karena sangat lemah pengetahuannya dalam skala internasional, sehingga lebih mudah beroperasi di Indonesia, hal ini pula yang mendasari aksi sejumlah warga negara Malaysia dalam aksi teror di Indonesia.

Mudah-mudahan dengan berbagai perbaikan sektor kemanan dan keselamatan rakyat Indonesia, serta profesionalisme aparat keamanan, tidak akan ada lagi aksi teror yang mengintimidasi kedamaian bangsa Indonesia.

Sekian
SW


Labels:


Read more!

Mengapa Blog I-I membuat link dengan Web Intelijen Lain

Sebagai bagian dari proses pembelajaran kepada rakyat Indonesia tentang pentingnya kewaspadaan nasional, ada suatu tahapan yang seringkali kita semua lupa betapa pentingnya tahapan itu, yaitu membaca alias belajar. Bacalah dengan kejernihan akal kita dan ketenangan emosi, niscaya dunia intelijen internasional akan dapat dipahami. Kemudian setelah kita kita berkaca dan melihat pada sistem keamanan dan pertahanan kita sendiri, khususnya di dunia informasi dan intelijen.

Link website intelijen di berbagai dunia sengaja saya buat agar rekan-rekan yang ingin mendalami studi atau dunia intelijen segera dapat melakukan riset ke alamat web tersebut. Anggap saja hal ini dapat menyingkat waktu dari pada mencarinya di google.




Labels:


Read more!

Thursday, September 17, 2009

Saifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir


Pengungkapan demi pengungkapan yang dilakukan Polri, khususnya Densus 88 tentunya sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia. Apresiasi yang tinggi patut kita berikan kepada Polisi Indonesia. Setelah 14 titik sidik jari Noordin M. Top yang identik dengan data dari Polisi Diraja Malaysia, kita tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk pembuktian final yang tidak terbantahkan lagi.

Beberapa rekan Blog I-I menanyakan peranan intelijen AS, Australia dan Inggris yang membantu Polisi dan Intelijen Indonesia. Dalam kaitan ini perlu saya sampaikan bahwa kerjasama internasional adalah hal yang wajar, khususnya dalam pertukaran informasi dalam melawan terorisme. Namun keseluruhan keberhasilan adalah milik aparat keamanan Indonesia, dan saya minta rekan-rekan dapat meyakini bahwa peningkatan kapabilitas Polri adalah benar-benar telah mencapai prestasi internasional, bahkan dapat dinilai tidak kalah dengan Polisi-polisi dan aparat keamanan di negara-negara maju.

Kita sebagai bangsa Indonesia boleh saja meragukan kemampuan aparat keamanan kita sendiri, namun ketika bukti keberhasilan sudah jelas di depan mata, tentunya kita dapat membuka mata kita bahwa benar polisi kita telah mencapai prestasi yang luar biasa.

Akan lebih positif apabila seluruh elemen bangsa Indonesia yang peduli dengan keamanan nasional dan keselamatan rakyat turut membantu aparat keamanan dalam penyelidikan dua tokoh yang belum tertangkap yaitu Saifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir.

Kecerdikan para pelaku teror yang bersembunyi dibalik kedok ajaran Islam telah membuat banyak orang tertipu sehingga simpati kepada para teroris tersebut. Sedangkan propaganda Barat melawan Islam juga telah menimbulkan kecurigaan yang tidak beralasan.

Jaringan Blog I-I melihat bahwa keterkaitan Barat dan Islam perlu diselidiki secara lebih dalam lagi dalam pembuktian adanya master mind internasional. Dengan pengungkapan para pelaku teror di dalam negeri kita, tentunya dapat digali lagi apakah ada keterkaitan itu, dan saya menghimbau untuk mulai berpikir secara lebih obyektif berdasarkan fakta-fakta empiris seperti yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia.

Mari kita dukung upaya aparat keamanan Indonesia menjaga keselamatan rakyat Indonesia dengan memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya, dan pada gilirannya rakyat Indonesia dapat berkonsentrasi dalam pembangunan ekonomi, sosial dan politik.

Labels:


Read more!

Monday, September 07, 2009

Kedangkalan Analisa Blog I-I

Terima kasih atas kritikan membangun dari rekan-rekan Blog I-I yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini dapat diterima dengan baik dalam diskusi nasional demi perbaikan masa depan Indonesia, serta bukan sebagai bagian dari kepuasaan taktis sesaat untuk kepentingan tertentu.

Misalnya dalam soal sorotan kepada reformasi militer dan intelijen, tentu saja Blog I-I hanya mengambil peranan anjing menggonggong mudah-mudahan kafilah memikirkannya ketika berlalu, karena tujuan dari Blog I-I bukanlah revolusi perubahan yang drastis tetapi secara sungguh-sungguh ingin membuka mata komunitas intelijen tentang ketertinggalan yang terjadi selama puluhan tahun terakhir ini.

Kemudian dalam isu-isu spesifik seperti terorisme, Ahmadiyah, ataupun kelompok radikal kanan (raka) dan radikal kiri (raki), Blog I-I mungkin tampak sok tahu dengan sedikit mengungkapkan detail, apalagi yang terkait dengan peranan elit intelijen dan militer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejauh mana diharapkan Blog I-I mengungkapkan kebenaran tentunya ada batasan yang etis dalam pengungkapan tersebut.


Bila rekan-rekan dari komunitas intelijen ataupun termasuk 2% dari bangsa Indonesia dengan akses informasi yang kuat tentunya akan segera memahami bahwa Blog I-I tidak akan melangkah sejauh itu dalam pengungkapan berbagai peristiwa yang mendera bangsa Indonesia. Karena tidak semua kebenaran dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, bahkan akan tampak sangat provokatif, karena kebenaran itu menjadi hak prerogatif segelintir tokoh elit di negeri ini. Bangsa kita belum sungguh-sungguh siap menanggung kebenaran sejati sejarah perjalanan diri kita sendiri.

Baiklah, saya tidak akan pusingkan rekan-rekan dengan isu kecil seperti Ahmadiyah karena ancamannya tidak akan meruntuhkan kedaulatan Indonesia Raya, terlebih dengan adanya pengaruh dari sejumlah elit di negeri ini. Analisa yang mendalam dan pengungkapan kasus ini justru akan memperumit masalah karena pada ujungnya harus melalui hukum formal yang jelas masih sulit ditempuh secara tegas oleh Negara Demokratis Indonesia Raya saat ini. Sekitar 10-20 tahun ke depan mungkin akan lebih mudah apabila kedewasaan berpolitik dan demokrasi semakin matang.

Coba kita tengok sejarah yang baru lewat 11 tahun berselang, khususnya ketika kita kehilangan kedaulatan atas Timor Timur, ini adalah masalah terbesar dari sudut pandang NKRI bukan? Tetapi tidak ada satupun dari kita yang berani menuntut kepada pemerintah ataupun elit-elit yang berkuasa untuk mempertanggungjawabkan seluruh kesalahan strategi sejak tahun 1975. Bangsa Indonesia menanggung malu di dunia internasional sebagai bangsa penjajah, sebagai bangsa pelanggar HAM, pemerkosa, pembunuh, karena perilaku sedikit elit militer yang beberapa diantaranya baru-baru ini berani mencalonkan diri sebagai pimpinan nasional kita dalam pemilu Presiden.

Sungguh puji Tuhan pelindung bangsa Indonesia, kampanye underground Blog I-I berhasil mematahkan segala daya upaya para pendosa yang telah mencoreng kehormatan bangsa Indonesia tersebut, setelah pelanggaran HAM berat dan sikap pengecut dengan berlindung dibawah pengampunan sistem hukum nasional Indonesia yang rapuh. Bahkan Indonesia sebagai negara juga melindungi para penghianat yang menyebabkan rusaknya citra bangsa Indonesia di dunia internasional hingga saat ini. Blog I-I sangat kecewa kepada segelintir elemen bangsa Indonesia yang bodoh dan masih dapat ditipu dengan rayuan kebohongan dan politik uang.

Fakta lain adalah kebangkitan keluarga Cendana dengan wacana rencana kembalinya Tommy Suharto ke gelanggang politik nasional. Cobaan apalagi yang akan kita hadapi apabila tidak segera lahir calon-calon pemimpin bangsa yang berkualitas. Apalagi tampak ada kecenderungan membiarkan lahirnya kembali elemen-elemen penghancur bangsa Indonesia. Mengapa saya berani katakan elemen penghancur bangsa karena mayoritas bangsa kita berpikir dalam dunia sempit Indonesia serta terlalu banyak mencurahkan perhatian dalam persaingan kekuasaan domestik, sementara lupa dengan pentingnya dinamika dan perubahan internasional yang senantiasa mengancam bukan hanya integritas wilayah, tetapi juga intergitas ke-Indonesia-an, yaitu karakter dan jati diri bangsa yang terhormat.

Bertahun-tahun kita dihina sebagai bangsa yang tidak beradab karena tidak mampu menuntaskan begitu banyak kasus kemanusiaan. Apakah hal itu standar Barat yang dipaksakan ataukah fakta yang kita lihat sehari-hari di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dll. Bukankah kita sering melihat oknum preman berseragam yang dipersenjatai oleh biaya pajak yang kita bayar kepada pemerintah justru mengintimidasi kehidupan kita. Hal inilah yang harus segera dirubah hingga akar-akarnya dan ditata kembali dengan tetap mengindahkan kehormatan profesi para pelindung negara.

Pembenaran-pembenaran yang kita lakukan ketika tejadi penderitaan di Aceh, Timor-Timur, Maluku, dan Papua semua ditutup dalam satu semangat keramat NKRI, tetapi sesungguhnya kita belum menyentuh persoalan yang mendasar di kawasan-kawasan tersebut.

Fakta lain yang lebih menyedihkan adalah bahwa kita cenderung melupakan sejarah atau membiarkan sejarah tidak jelas, sehingga akhirnya orang asing (Australia, Inggris, Amerika, PBB,dll) yang memberikan klarifikasi yang belum tentu benar, namun karena tidak ada kemauan dari kita untuk mengungkapkan fakta sejarah, maka akhirnya sejarah yang merupakan versi asing itulah yang dilabelkan dalam perjalanan bangsa kita di dunia. Sangat memalukan bukan?

Kembali pada kasus Timor Timur, masihkah kita memberikan penghormatan kepada para Pejuang Seroja? Sebagai prajurit perang pikiran saya menyarankan untuk mengabadikan penghormatan kepada para Pejuang Seroja karena mereka adalah pahlawan yang berjuang tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Kita harus mengabadikan ini sebagai fakta sejarah bahwa Indonesia pernah berusaha membebaskan Timor Timur dari cengkeraman bahaya komunisme (dalam konteks tahun 1975). Dengan demikian, tidak benar kita melakukan aneksasi atau penjajahan atau kolonialisme terhadap Timor Timur, karena hal itu melanggar pembukaan UUD 1945.

Bahwa kemudian terjadi sejumlah persoalan kemanusiaan, sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda, Portugis, dan Jepang tentunya bangsa Indonesia yang sekarang sudah demokratis juga sadar pentingnya pelurusan sejarah, yang hal ini adalah demi masa depan generasi Indonesia sendiri agar tidak muncul perasaan malu seperti dialami generasi paska perang dunia I dan II di Jerman dan Jepang. Indonesia harus berlapang dada mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang terjadi di dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Hal ini tidak ditujukan untuk kepentingan tertentu, tetapi demi bangsa dan negara. Tidaklah sepatutnya kita melindungi pimpinan yang tidak kapabel dalam menjalankan fungsinya yang mana sejarah sudah membuktikan kekalahan telak yang dialami dalam kasus lepasnya Timor-Timur. Berhentilah menyalahkan unsur konspirasi asing karena ketidakmampuan strategi dalam membangun NKRI yang bermartabat.

Namun angin lebih kuat berhembus pada ketidakjelasan arah Indonesia dalam klarifikasi sejarah perjalanan bangsa Indonesia, sehingga orang asing seenaknya menuliskan sejarah hitam Indonesia sebagai penjajah. Misalnya saja dalam rencana peluncuran film Balibo Five di Australia yang menceritakan kisah peristiwa Balibo tahun 1975. Seluruh komunitas intelijen di dunia paham bahwa film adalah alat propaganda paling efektif dalam mempengaruhi keyakinan orang, apalagi tentang sejarah. Apabila ternyata film tersebut nantinya tidak menyenangkan bagi Indonesia, apakah kita akan marah-marah dan protes dengan alasan nasionalisme? Percayalah....dunia akan tertawa melihat kebodohan kita tersebut.

Sentimen negatif dunia jurnalisme internasional banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian sikap pemerintah Indonesia dalam mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi, Indonesia cenderung menganggap semua itu sebagai kecelakaan dan mencoba dilupakan...tetapi kalangan jurnalisme tidak akan pernah lupa dalam kasus-kasus yang merenggut nyawa jurnalis yang bertugas. Itulah sebabnya mengapa sangat sulit meyakinkan kalangan media atas setiap perkembangan di Timor Timur pada era Orde Baru, dengan kata lain kita kalah telak sangat telak mungkin ibaratnya 10-0 dalam pertandingan sepakbola.

Tulisan saya lebih banyak bersifat ajakan untuk berpikir memperbaiki kekeliruan di masa lalu, menghindari kesalahan yang sama dan menyongsong masa depan dengan strategi yang lebih baik. Apabila diteruskan mungkin bisa tertulis berlembar-lembar dalam format analisa yang dangkal seperti penilaian sebagian rekan-rekan. Mohon sekalipun rekan-rekan memiliki informasi yang lebih detail, saya sarankan tidak untuk publikasi sebelum dipikirkan matang-matang. Apabila tulisan Blog I-I terasa sok tahu, sangat mungkin demikian apalagi bagi rekan-rekan dalam komunitas intelijen. Lagi pula Blog I-I bukanlah sumber informasi tertinggi dalam dunia intelijen Indonesia, dan tidak ada kewajiban bagi rekan-rekan untuk meyakininya. Saya menyarankan rekan-rekan untuk berkontemplasi dan memikirkan kembali setelah membaca sebuah artikel Blog I-I, kemudian lihat maksud dan tujuan setiap artikel, niscaya akan terasa ruang-ruang kritik untuk perbaikan dan diskusi yang berlanjut dan hampir tidak bersifat tertutup sebagai kebenaran mutlak, sebaliknya justru sangat terbuka untuk ruang diskusi.

Sekian
SW



Labels: ,


Read more!

Thursday, August 20, 2009

Prinsip-prinsip Kontra Intelijen

Sekedar sebagai penyegaran kepada para Ronin dan Senopati tanpa Tuan yang berhati merah-putih, khususnya jaring Blog I-I, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa prinsip yang harus rekan-rekan hayati dan jalani dalam melaksanakan fungsi kontra intelijen terhadap musuh-musuh Indonesia Raya.

Beberapa prinsip tersebut antara lain:

1. Aktif dan menyerang, maksudnya adalah bahwa seorang perwira dan pelaksana fungsi kontra intelijen harus memiliki prinsip aktif mencari tahu gerakan dan tujuan lawan serta dengan seksama mengamati setiap langkah yang ditempuh lawan. Menyerang disini bukan berarti secara realita melakukan penyerangan, melainkan tidak bertahan, tetapi bahwa kita beroperasi di wilayah hukum kita, tidak ada yang perlu ditakuti dalam mengamati lawan siapapun dia. Berbeda dengan model bertahan, adalah hanya untuk pengecut yang ketakutan di rumah sendiri.

2. Menguasai medan dan jalanan, sebagai kelanjutan dari sikap yang aktif maka prinsip penguasaan medan dan jalanan adalah syarat mutlak dalam melakukan operasi kontra intelijen. Dengan penguasaan medan dan jalanan akan membuat jalannnya operasi berjalan lancar dan natural serta tidak ada kejutan dari pihak lawan karena berbagai seluk-beluk lingkungan adalah dalam penguasaan kita. Hal ini juga akan mengurangi manuver intel asing yang pandai menghilangkan jejak ketika sedang diawasi.

3. Tidak mengabaikan analisa. Salah satu kelemahan unit operasional adalah seringkali meremehkan analisa karena bagi mereka sudah bertahun-tahun melakukan kegiaan kontra intelijen, pengalaman dan insting di lapangan lebih penting. Namun dunia sangat dinamis dan berbagai metode juga berkembang pesat, sehingga sangat diperlukan pengetahuan yang luas khususnya dalam menganalisa model-model kegiatan intel asing yang dalam kaitan ini memerlukan analisa.

4. Terus-menerus dalam peningkatan dan penyegaran operasi dengan latihan-latihan. Berbagai pendekatan untuk meningkatkan profesionalitas unit kontra intelijen harus dilakukan secara berkala baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal ini untuk menjaga kesegaran dan kewaspadaan dalam pelaksanaan tugas. Selain itu juga untuk memperkaya dan mempersiapkan kesiagaan unit kontra intelijen dalam mencermati setiap dinamika dan kemajuan zaman dalam operasi-operasi intelijen di seluruh dunia. Denan bekal tersebut, unit kontra intelijen akan siap mendeteksi dan menghancurkan jaringan operasi intelijen asing di negara.

5. Bergantian, maksudnya adalah bahwa akan lebih efektif dan segar apabila para pelaksana dalam unit kontra intelijen bekerja secara bergantian dan tidak bertahan dalam satu posisi terlalu lama. Hal ini merupakan tuntutan pekerjaan untuk dapat fokus pada operasi dan tidak berpikir kemana-mana. Satu hal yang juga sangat perlu adalah adanya rotasi dimana petugas non-kontra intelijen juga perlu mengalami operasi kontra intelijen untuk melenngkapi, setidaknya 2 sampai tiga tahun.

6. Tidak pernah menyerah merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar karena hal ini berkaitan dengan keberhasilan misi mengkonter intelijen lawan.

7. Tidak sombong/merasa paling hebat dalam jajaran intelijen. Setiap fungsi intelijen penyelidikan, pengamanan dan penggalangan memiliki keunikan dan kesulitan tersendiri yang menjadi model yang tidak dapat dihindari. Perilaku menang sendiri dan sombong yang dipicu oleh eksklusifitas suatu unit operasi seringkali membuat lupa diri dan ketertutupan unit yang justru akan berdampak negatif bagi pengembangan acara

8. Mudah bekerjasama adalah suatu prinsip sederhana yang sulit dilaksanakan karena seringkali kenyataan menunjukkan bahwa ego pribadi dan sektoral lebih besar dibandingkan dengan kepentingan operasi. Faktor ini sering membuat operasi kontra intelijen berantakan karena pihak musuh telah tahu potensi perpecahan yang dan memanfaatkannya untuk melakukan adu-domba.

9. Menghargai dan menghormati profesi

10. Mengetahui sejarah intelijen Indonesia, kisah-kisah legenda intelijen dan kontra intelijen, serta menjadikannya sebagai modal dan acuan dalam mengarungi perang intelijen tanpa akhir.

Demikian, silahkan ditambah atau dikoreksi.
Terima kasih
SW

Labels:


Read more!

Tuesday, August 18, 2009

Refleksi Kemerdekaan Indonesia Raya

Hanya ada satu refleksi yang ingin saya sampaikan 1 hari setelah ulang tahun kemerdekaan Indonesia Raya ke-64. Sudahkah kita membangun jati diri kebangsaan Indonesia yang kuat? Persoalan terbesar bangsa Indonesia adalah belum tercapainya suatu identitas keIndonesiaan yang total lahir dan bathin. Masih banyak kekecewaan dan penderitaan sebagai akibat dari ketidakadilan dan masih besar kecurigaan yang lahir dari perbedaan diantara kita. Marilah kita bangun identitas Indonesia yang demokratis dan menghargai kemanusiaan serta maju secara ekonomis dari Sabang sampai Merauke.

Dirgahayu Indonesia Raya!!!







Labels: ,


Read more!

Tentang Politik Dalam Negeri (Pemilu)

Hanya sebuah komentar/pertanyaan tetapi membuat Blog I-I merasa perlu memberikan sedikit pandangan, yaitu pertanyaan mengenai pemilu, kemenangan incumbent SBY dan kekelahan incumbent JK, serta peranan intelijen. Sebuah komentar yang agak tendensius, namun kritis dan berupaya mencari tahu dengan dugaan adanya suatu peranan tertentu dari intelijen dalam pemilu.

Posisi Blog I-I adalah menghendaki intelijen bersih dari pertarungan politik dalam negeri, serta berkonsentrasi dengan seluruh ancaman terhadap kepentingan bangsa dan negara (bukan kepentingan kelompok atau elit politik). Posisi cukup berpengaruh ke dalam sendi jaringan intelijen Indonesia yang reformis, yang menghendaki profesionalisme dan keseimbangan antara tekanan kekuasaan dan obyektifitas analisa intelijen yang berlandaskan kepada kepentingan bangsa dan negara.

Khusus mengenai fenomena kemenangan incumbent SBY, saya dapat menyampaikan secara gamblang bahwa:

Peranan intelijen dapat dinilai tidak signifikan dalam mempengaruhi hasil pemilu. Satu hal pasti adalah intelijen turut berperan dalam menjaga ketertiban dan menghilangkan ancaman terhadap proses berlangsungnya pesta demokrasi.

Kemenangan SBY lebih dipengaruhi oleh peranan media, popularitas, efektifitas kampanye, dan kelemahan mendasar yang melekat pada pasangan calon presiden dan wapres lainnya. Misalnya JK, kelemahannya terletak pada tidak solidnya dukungan di dalam Partai Golkar dan adanya keinginan dari sebagian elit Partai Golkar untuk merapat kepada SBY. Kemudian Wiranto memiliki kelemahan mendasar dalam soal citra buruk di masa lalu yang belum dilupakan oleh rakyat Indonesia. Wiranto sama sekali tidak mencerminkan antagonisme dengan SBY, karena kelemahan Wiranto sebagai seorang Jenderal pimpinan tertinggi pada masa akhir Pemerintahan Suharto adalah kebimbangan dan kurang percaya diri dalam menempuh nasionalisme total semi militerisme yang ditawarkan Suharto, hal itu mencerminkan mentalitet tentara yang lembek. Dengan kata lain, kekalahan JK-Wiranto sudah terukur secara analisis politik bahkan jauh sebelum masa kampanye, mohon rekan-rekan juga mendalami analisa kekuatan-kekuatan politik secara akademik dengan kalkulasi yang akurat (pelajari model-model political comptetition: theory and application).

Potensi yang cukup lumayan justru ada di kubu Mega-Prabowo, dengan basis massa PDI-P yang telah terukur sekitar 25-30%, sesungguhnya hanya dibutuhkan tambahan sekitar 15% dengan asumsi JK-Wiranto mampu mencapai 15% suara. Sudah cukup untuk putaran kedua dan ketika suara menyatu, maka incumbent SBY akan kewalahan pada putaran kedua. Namun hal itu tidak terjadi bukan?

Mengapa?

Prabowo dengan rebirth program, boleh saya acungkan jempol karena popularitasnya meningkat tajam dan mampu mencerminkan diri sebagai antagonis SBY, artinya dapat menyedot minat pemilih dalam pemilu. Ternyata ada suatu kelupaan dalam rebirth program Prabowo, yaitu prosesnya belum matang dan terlalu cepat mengkristalkan konsep kerakyatan yang tampak tidak meyakinkan karena fakta berbicara lain, artinya rakyat dapat merasakan angin harapan dari konsep kerakyatan Prabowo namun belum cukup yakin bahwa hal itu akan membawa perubahan yang signifikan. Tidaklah cukup 2-3 tahun bagi Prabowo untuk lahir kembali dalam suatu wajah yang menjanjikan perbaikan bagi bangsa dan negara Indonesia. Belum lagi, sejumlah kalangan aktivis secara aktif menyerang latar belakang sejarah Prabowo terkait isu HAM dan militerisme yang berlebihan. Akibatnya, ada keraguan yang besar di dalam hati dan benak pemilih. Pasangan Mega-Prabowo tertolong oleh basis massa yang loyal kepada ideologi nasionalisme yang diusung PDI-P, sehingga tetap mampu menarik suara yang besar, namun tidak cukup untuk menjadi pemenang.

Catatan tersebut diatas tidak memerlukan analisa kompetisi politik yang rumit karena mudah ukurannya. Terlepas dari persoalan Daftar Pemilih, persoalan administrasi, dan kemungkinan adanya kecurangan, saya melihat bahwa analisa dan ukuran yang kita berikan secara awam (common sense) telah dapat menjawab mengapa incumbent SBY menang kembali. Tambahan poin dengan memilih pasangan Boediono yang tampak apolitis, sangat menarik minat kalangan menengah (middle class) di perkotaan yang melihat adanya potensi perbaikan ekonomi yang semakin cepat.

Saya tidak bermaksud menegasikan adanya peranan intelijen dalam menyukseskan terpilihnya kembali incumbent SBY, namun bila dibandingkan dengan peranan intelijen dalam rekayasa politik demokrasi era Orde Baru, maka Indonesia telah amat sangat jauh berubah, dan peranan intelijen juga demikian, tidak ada lagi celah yang dapat membuat intelijen seenaknya merekayasa politik dalam negeri untuk kepentingan kekuasaan.

Pengawas ada di mana-mana, peranan LSM dan aktivis civil society begitu besarnya, partai politik memiliki ruang gerak yang lebih bebas dibandingkan era Orde Baru. Maka saya dapat yakin bahwa intelijen dengan reformasinya telah mulai menata diri untuk tidak terjebak dalam kompetisi politik di dalam negeri.

Sekiranya ada hal-hal yang rekan-rekan pikir kurang tepat, mohon koreksinya.
Terima kasih

Labels: , , ,


Read more!

Monday, August 17, 2009

Pesan Bapak

Ternyata sekali lagi harus diakui kepekaan rekan-rekan Blog I-I dalam menilai setiap tuisan di Blog I-I. Benar adanya bahwa Bapak Senopati masih belum fit dalam berbagi wejangan, nasehat dan analisa serta arahan kepada jaring Blog I-I.

Ternyata tidak mudah untuk menyelami kedalaman pikiran dan analis Bapak, sehingga hanya dalam beberapa artikel yang menurut Bapak terlalu tergesa-gesa segera terlihat bahwa tulisan saya masih jauh dari harapan.

Berikut ini pesan dari Bapak, sehubungan dengan naik-turunnya kualitas tulisan dalam Blog I-I:

1. Kepada para sahabat dan jaring Blog I-I yang saya sayangi dan hormati, cobalah untuk melangkah lebih jauh ke dalam strategi pemikiran yang berwawasan kebangsaan dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depan Indonesia Raya.
2. Dalam kaitan masa depan bangsa kita yang tercinta, Blog I-I hanyalah sebuah wadah dan bukan sumber kebenaran yang hakiki, karena kebenaran itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kesepakatan kita bersama untuk kita resapi dan jalankan. Kebenaran yang saya maksud adalah kepentingan nasional yang sungguh-sungguh asli, yaitu yang menyangkut kehendak kita bersama, misalnya keutuhan wilayah/kedaulatan bangsa, peningkatan dan perlindungan ekonomi bangsa yang menyentuh ke lapisan terbawah dalam realita sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya.
3. Saya bahagia, andaikatapun harus meninggalkan alam yang fana ini, karena komunikasi di dalam jaring Blog I-I sudah semakin luas dan kuat. Namun Puji Tuhan ...Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih bisa berkomunikasi dengan sahabat Blog I-I.
4. Dinamika yang lebih transparan dalam bentuk sharing informasi yang dapat dibaca publik sudah dapat ditingkatkan, karena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kesiapan masyarakat Indonesia dalam berdebat sudah meningkat jauh lebih baik.
5. Manfaatkanlah Blog i-I sebagai sarana saling belajar dalam memperkuat pondasi kebangsaan Indonesia, dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia, serta dalam memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.
6. Jadikan setiap kekeliruan yang pernah kita lakukan sebagai guru dalam menghindari kekeliruan yang sama di masa depan.
7. Blog I-I juga dapat dipandang sebagai sebuah gerakan perubahan tanpa struktur yang dinilai lebih efektif di dunia ide untuk peningkatan keamanan dan kapabilitas intelijen. Sementara realita perubahan yang lebih baik di dunia nyata adalah tanggung jawab rekan dan sahabat yang masih aktif menjadi organisk aparat keamanan negara Republik Indonesia.
8. Dengan demikian, tidak akan terjadi pergesekan yang keras, karena pembaharuan yang dibawa Blog I-I bagaikan pil yang harus dicerna terlebih dahulu oleh setiap insan intelijen, dan aparat keamanan Indonesia.

Sekian
SW

Labels:


Read more!

This page is powered by Blogger. Isn't yours?







Flag sejak Agustus 2009 free counters

Online Users